Komunitas Pencak Silat Indonesia

Gallery Milis Silatindonesia

Photo AlbumSilat SingapuraJan 8, '08 3:54 AM
for everyone
MELONGOK PERKEMBANGAN SILAT DI SINGAPURA
Koran Tempo, Ahad, 6 Januari 2007

Kok silat sih? Mungkin begitu pertanyaan anda. Wajar saja, soalnya di berbagai
ajang turnamen olahraga multi-even, Singapura lebih terkenal oleh prestasi
renang, polo air, tenis meja, layar dan menembak.

Lihat saja ajang SEA Games 2007 Thailand, Desember lalu. Singapura mendominasi
kolam renang dengan menyabet 14 medali emas dari 22 yang disediakan. Mereka
juga mendulang 7 emas dari layar. Tenis meja juga menyapu bersih 7 medali
emas yang diperebutkan.

Adapun di pencak silat, Singapura hanya berhasil mendapat 1 emas dari 13
medali yang tersedia di SEA Games lalu. Dua tahun lalu di Filipina, perolehan
utamanya juga hanya 1 emas. Padahal sampai 2003, silat rutin mempersembahkan
3 emas.

/Lha/, udah tau /memble/, kok malah silat yang diliput?

Jangan salah pembaca. Walaupun negeri jiran kita itu hanya mendulang 1 emas,
olahraga ini adalah cabang olahraga utama Singapura, bersama 7 cabang lainnya
yakni atletik, badminton, bowling, sepakbola, layar, renang/polo air, dan
tenis meja. Mereka dikategorikan sebagai "Core Identified Sport" oleh dewan
olahraga negeri Singa pada tahun 2004.

Intinya, silat menjadi cabang olahraga yang diprioritaskan pembinaan dan
pendanaannya. "Sejak tahun lalu kami menjadi cabang olahraga yang
diutamakan," kata Direktur Eksekutif Persekutuan Silat Singapura (Persisi),
Sheik Alau'ddin Yacoob Marican ketika ditemui /Tempo/ di sekretariat Persisi,
di Bedok North Street, lima pekan lalu.

Soal emas yang cuma sebiji di Sukan SEA itu, Sheik -demikian ia biasa disapa-
mengaku sudah memprediksinya. "Itu hasil maksimal yang bisa kami berikan,"
katanya.

Alasannya? Pertama, tidak semua pesilat andalan bisa diturunkan. Dari 13 orang
pesilat yang diturunkan hampir semuanya adalah wajah baru. Pesilat andalan
Imran B. Abdul Rahman di kelas 80 kg tidak bisa turun karena mengikuti wajib
militer, yang disana disebut "khidmat negara".

Beberapa pesilat andalan lainnya tidak bisa turun karena nomornya tidak
dipertandingkan seperti Md Razif B. Moklas yang berlaga di nomor 85 kg.
Begitu juga nomor Seni, juga tidak digelar. Padahal Singapura punya trio
silat seni yang menjadi juara dunia. Sebagai perbandingan, di Kejuaraan Dunia
Pencak Silat di Malaysia, Singapura mendulang 3 emas, lebih banyak dari
Indonesia yang membawa hanya 2 emas.

Walaupun cuma sebiji, Sheikh tetap bersyukur. Soalnya, bisa saja mereka
melenggang tanpa medali. Buktinya, Malaysia dan Brunei tidak kebagian medali
emas silat satupun di SEA Games lalu. "Janganlah kami disamakan dengan
Indonesia dan Malaysia. Bahkan juga dengan Brunei. Pencak silat di Singapura
menghadapi kondisi dan tantangan yang berbeda dan unik," ujarnya.

Berbeda dan unik? Nah, ini satu lagi yang menarik. Masyarakat ketiga negara
diatas, yang didominasi etnis Melayu, tidak memiliki jarak dengan pencak
silat sebagai olahraga asli Asia Tenggara.

Sebaliknya masyarakat di Singapura, memiliki "hambatan budaya" dalam
mempelajari pencak silat. "Masih ada persepsi di sebagian masyarakat bahwa
pencak silat adalah seni yang mistis, yang kental dengan nuansa Islam dan
hanya dikhususkan untuk orang-orang Melayu," ujarnya.

Dengan stigma itu, tidak heran, walaupun dikategorikan olahraga inti oleh
pemerintahnya, silat tidak populer di Singapura. Jarang ada warga Singapura
etnis non-melayu yang tertarik belajar silat. Dari sekitar 15 ribu warga yang
belajar pencak silat, hanya sekitar 200 orang yang berasal dari etnis
non-melayu seperti India, Arab dan Cina.

“Inilah yang terjadi di Singapura. Orang melayu atau Islam belajar silat.
Warga Cina belajar wushu dan seterusnya,” katanya. Bagaimana silat bisa
berkembang dan mendapat atlet-atlet terbaik kalau yang tertarik belajar hanya
etnis Melayu di Singapura yang jumlahnya juga tidak banyak?

Inilah wajah Singapura. Sebuah negara multi-etnis dengan keturunan Cina
menjadi mayoritas, 75.2 persen dari populasi, Melayu 13,6 persen, India 8,8
persen, sementara sisanya 2,4 persen berasal dari Eropa dan etnis lain.

Negara itu beberapa kali mengalami konflik etnis, ras dan agama. Setidaknya
ada dua konflik etnis yang besar dengan korban jiwa yakni kerusuhan etnis
Maria Hertogh tahun 1948 antara penduduk melayu/muslim dengan warga
Eropa/Kristen. Kerusuhan kedua terbesar konflik Cina-Melayu tahun 1964.

Puluhan tahun berlalu, segregasi etnis nyatanya masih tetap ada. Bahasa resmi
mereka adalah Melayu dan Inggris. Lihat saja lagu kebangsaan “Majulah
Singapura”, yang tetap dinyanyikan dalam bahasa melayu.

Tetapi sehari-hari warga menggunakan bahasa asal etnis mereka masing-masing
termasuk Mandarin dan Tamil. Untung saja ada bahasa Inggris yang di adaptasi
secara lokal yang disebut “Singapore English” (Singlish), yang paling luas
digunakan

Masih adanya segregasi etnis dan persepsi bahwa silat berorientasi mistik,
hanya untuk muslim dan etnis melayu, menjadi pekerjaan rumah Persekutuan
Silat Singapura dalam memasyarakatkan pencak silat, sebuah kerja berat yang
tidak perlu dihadapi oleh otoritas silat di Indonesia dan Malaysia.

Dibentuk pada tahun 1976, Persisi menjalin kerjasama erat dengan Persekutuan
Silat Antarbangsa membentuk silat sebagai murni olahraga beladiri yang
kompetitif. “Kami telah mengoreksi semua aspek yang berkaitan dengan agama
dan sistem kepercayaan tertentu sehingga membentuk silat modern yang siap
menjadi olahraga global yang bisa dipelajari semua orang,” urai Sheik

Aslinya, semua beladiri melibatkan pemahaman dari sistem kepercayaan tertentu.
Beladiri Jepang dan Cina misalnya, terkait erat dengan kepercayaan Zen, Tao
dan agama Budha. Karena asalnya dari Indonesia dan Malaysia, yang mayoritas
adalah muslim, maka sistem kepercayaan itu juga terpantul dalam sistem
beladiri yang ada.

Tetapi sebenarnya pencak silat adalah sistem beladiri yang universal dan tidak
hanya dikhususkan pada mereka yang beragama Islam. Di Amerika Serikat dan
Eropa, praktisi silat berdoa sesuai dengan agama mereka masing-masing pada
saat hendak memulai latihan.

Salah satu strategi, Persisi telah mencetak material brosur dan poster tidak
dalam bahasa Melayu tetapi dalam bahasa Inggris sejak 10 tahun lalu. Dari
103 /community center/ di Singapore, hampir 95 persen membuka pelatihan
silat.

Tidak cuma itu, sekarang ini 70 persen dari ratusan sekolah di Singapura juga
mengajarkan pencak silat sebagai ektrakurikuler tetap lewat program “Silat
Goes to School”. Silat juga dimasukkan sebagai kurikulum Sekolah Olahraga
Singapura.

Sebagai sarana pembinaan dan pencarian bibit unggul dari seluruh aktivitas
itu, setiap tahunnya, Persisi rutin menggelar kompetisi silat untuk berbagai
usia dan kalangan. Ada program pembinaan dan kompetisi “Singa Silat” dan
“Singa Cub” untuk bocah 3-11 tahun.

Sejak dini mereka telah dilatih Singapore Silat Centre of Excellence untuk
kategori seni dan tanding. Mereka bahkan dikirim untuk berujicoba ke Malaysia
dan Indonesia 2 kali setahun untuk memberikan mereka pengalaman.

Selain itu, masih ada kejuaraan nasional untuk berbagai kategori usia mulai
dari Pre-Junior ((12-14 tahun), Junior (14-17 tahun) dan senior (17 tahun ke
atas). Untuk level nasional masih ada juga kejuaraan Singapore Terbuka yang
diikuti oleh kontingen negara lain.

Untuk level perguruan tinggi ada kejuaraan /Inter-varsity/ yang diikuti dari
perguruan tnggi seperti National Univerisy of Singapore, Nanyang
Technological University, Singapore Polytechnic, Republic Polytechnic dan
lainnya. Masih ada juga turnamen /Inter-school/ yang diikuti oleh ratsuan
sekolah di Singapura.

Dengan seluruh aktivitas ini, walaupun perlahan, diharapkan akan lebih banyak
lagi warga Singapura non-melayu yang belajar pencak silat. Seorang pesilat
wanita keturunan Cina yang ditemui /Tempo/ mengaku stigma terhadap silat
tetap ada di kalangan warga non-melayu.

Strigma ini membuat pesilat non-melayu tidak mendapatkan dukungan yang besar
dari keluarga seperti halnya apabila mereka memilih menekuni renang atau
wushu. “Tetapi saya yakin dengan generasi baru, akan lebih banyak lagi anak
Singapura non-melayu yang belajar pencak silat,” kata sang gadis yang enggan
disebut namanya.

Salah satu cara memikat anak-anak muda adalah pemberian beasiswa pendidikan
bagi yang berhasil mempersembahkan medali dalam kejuaraan internasional. Hal
ini juga yang membuat Persisi meluncurkan program “Silat Goes Global” dengan
memasyarakatkan silat ke negara-nagara lain.

Hal ini dilakukan agar silat mendapatkan dukungan yang luas agar bisa
dipertandingkan di Asian Games atau bahkan Olimpiade. “Dengan demikian,
anak-anak muda lebih termotivasi karena memiliki kesempatan untuk
mengharumkan nama bangsa di ajang multi-even besar,” katanya.

Selain itu, dengan demikian, terbuka lebih besar kesempatan Singapura
memperoleh medali emas di ajang Asian Games atau Olimpiade. “Kalau di renang
dan lainnya mereka harus menghadapi negara-negara Eropa dan lainnya yang
lebih kuat, di silat, lawan kita sesama Asia Tenggara. Relatif lebih seimbang
dan punya kesempatan yang sama untuk menang,” ujar Sheik sambil tersenyum.
| amal ihsan (singapura)


dscf0284.jpg
  
dscf0286.jpg
  
dscf0287.jpg
  
dscf0288.jpg
  
dscf0289.jpg
  
Silsing.png
 1 Comment 


sruenk wrote on May 11
Good!
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.