MELONGOK PERKEMBANGAN SILAT DI SINGAPURA Koran Tempo, Ahad, 6 Januari 2007
Kok silat sih? Mungkin begitu pertanyaan anda. Wajar saja, soalnya di berbagai ajang turnamen olahraga multi-even, Singapura lebih terkenal oleh prestasi renang, polo air, tenis meja, layar dan menembak.
Lihat saja ajang SEA Games 2007 Thailand, Desember lalu. Singapura mendominasi kolam renang dengan menyabet 14 medali emas dari 22 yang disediakan. Mereka juga mendulang 7 emas dari layar. Tenis meja juga menyapu bersih 7 medali emas yang diperebutkan.
Adapun di pencak silat, Singapura hanya berhasil mendapat 1 emas dari 13 medali yang tersedia di SEA Games lalu. Dua tahun lalu di Filipina, perolehan utamanya juga hanya 1 emas. Padahal sampai 2003, silat rutin mempersembahkan 3 emas.
/Lha/, udah tau /memble/, kok malah silat yang diliput?
Jangan salah pembaca. Walaupun negeri jiran kita itu hanya mendulang 1 emas, olahraga ini adalah cabang olahraga utama Singapura, bersama 7 cabang lainnya yakni atletik, badminton, bowling, sepakbola, layar, renang/polo air, dan tenis meja. Mereka dikategorikan sebagai "Core Identified Sport" oleh dewan olahraga negeri Singa pada tahun 2004.
Intinya, silat menjadi cabang olahraga yang diprioritaskan pembinaan dan pendanaannya. "Sejak tahun lalu kami menjadi cabang olahraga yang diutamakan," kata Direktur Eksekutif Persekutuan Silat Singapura (Persisi), Sheik Alau'ddin Yacoob Marican ketika ditemui /Tempo/ di sekretariat Persisi, di Bedok North Street, lima pekan lalu. Soal emas yang cuma sebiji di Sukan SEA itu, Sheik -demikian ia biasa disapa- mengaku sudah memprediksinya. "Itu hasil maksimal yang bisa kami berikan," katanya.
Alasannya? Pertama, tidak semua pesilat andalan bisa diturunkan. Dari 13 orang pesilat yang diturunkan hampir semuanya adalah wajah baru. Pesilat andalan Imran B. Abdul Rahman di kelas 80 kg tidak bisa turun karena mengikuti wajib militer, yang disana disebut "khidmat negara".
Beberapa pesilat andalan lainnya tidak bisa turun karena nomornya tidak dipertandingkan seperti Md Razif B. Moklas yang berlaga di nomor 85 kg. Begitu juga nomor Seni, juga tidak digelar. Padahal Singapura punya trio silat seni yang menjadi juara dunia. Sebagai perbandingan, di Kejuaraan Dunia Pencak Silat di Malaysia, Singapura mendulang 3 emas, lebih banyak dari Indonesia yang membawa hanya 2 emas.
Walaupun cuma sebiji, Sheikh tetap bersyukur. Soalnya, bisa saja mereka melenggang tanpa medali. Buktinya, Malaysia dan Brunei tidak kebagian medali emas silat satupun di SEA Games lalu. "Janganlah kami disamakan dengan Indonesia dan Malaysia. Bahkan juga dengan Brunei. Pencak silat di Singapura menghadapi kondisi dan tantangan yang berbeda dan unik," ujarnya.
Berbeda dan unik? Nah, ini satu lagi yang menarik. Masyarakat ketiga negara diatas, yang didominasi etnis Melayu, tidak memiliki jarak dengan pencak silat sebagai olahraga asli Asia Tenggara.
Sebaliknya masyarakat di Singapura, memiliki "hambatan budaya" dalam mempelajari pencak silat. "Masih ada persepsi di sebagian masyarakat bahwa pencak silat adalah seni yang mistis, yang kental dengan nuansa Islam dan hanya dikhususkan untuk orang-orang Melayu," ujarnya.
Dengan stigma itu, tidak heran, walaupun dikategorikan olahraga inti oleh pemerintahnya, silat tidak populer di Singapura. Jarang ada warga Singapura etnis non-melayu yang tertarik belajar silat. Dari sekitar 15 ribu warga yang belajar pencak silat, hanya sekitar 200 orang yang berasal dari etnis non-melayu seperti India, Arab dan Cina.
“Inilah yang terjadi di Singapura. Orang melayu atau Islam belajar silat. Warga Cina belajar wushu dan seterusnya,” katanya. Bagaimana silat bisa berkembang dan mendapat atlet-atlet terbaik kalau yang tertarik belajar hanya etnis Melayu di Singapura yang jumlahnya juga tidak banyak? Inilah wajah Singapura. Sebuah negara multi-etnis dengan keturunan Cina menjadi mayoritas, 75.2 persen dari populasi, Melayu 13,6 persen, India 8,8 persen, sementara sisanya 2,4 persen berasal dari Eropa dan etnis lain.
Negara itu beberapa kali mengalami konflik etnis, ras dan agama. Setidaknya ada dua konflik etnis yang besar dengan korban jiwa yakni kerusuhan etnis Maria Hertogh tahun 1948 antara penduduk melayu/muslim dengan warga Eropa/Kristen. Kerusuhan kedua terbesar konflik Cina-Melayu tahun 1964.
Puluhan tahun berlalu, segregasi etnis nyatanya masih tetap ada. Bahasa resmi mereka adalah Melayu dan Inggris. Lihat saja lagu kebangsaan “Majulah Singapura”, yang tetap dinyanyikan dalam bahasa melayu.
Tetapi sehari-hari warga menggunakan bahasa asal etnis mereka masing-masing termasuk Mandarin dan Tamil. Untung saja ada bahasa Inggris yang di adaptasi secara lokal yang disebut “Singapore English” (Singlish), yang paling luas digunakan
Masih adanya segregasi etnis dan persepsi bahwa silat berorientasi mistik, hanya untuk muslim dan etnis melayu, menjadi pekerjaan rumah Persekutuan Silat Singapura dalam memasyarakatkan pencak silat, sebuah kerja berat yang tidak perlu dihadapi oleh otoritas silat di Indonesia dan Malaysia.
Dibentuk pada tahun 1976, Persisi menjalin kerjasama erat dengan Persekutuan Silat Antarbangsa membentuk silat sebagai murni olahraga beladiri yang kompetitif. “Kami telah mengoreksi semua aspek yang berkaitan dengan agama dan sistem kepercayaan tertentu sehingga membentuk silat modern yang siap menjadi olahraga global yang bisa dipelajari semua orang,” urai Sheik
Aslinya, semua beladiri melibatkan pemahaman dari sistem kepercayaan tertentu. Beladiri Jepang dan Cina misalnya, terkait erat dengan kepercayaan Zen, Tao dan agama Budha. Karena asalnya dari Indonesia dan Malaysia, yang mayoritas adalah muslim, maka sistem kepercayaan itu juga terpantul dalam sistem beladiri yang ada.
Tetapi sebenarnya pencak silat adalah sistem beladiri yang universal dan tidak hanya dikhususkan pada mereka yang beragama Islam. Di Amerika Serikat dan Eropa, praktisi silat berdoa sesuai dengan agama mereka masing-masing pada saat hendak memulai latihan.
Salah satu strategi, Persisi telah mencetak material brosur dan poster tidak dalam bahasa Melayu tetapi dalam bahasa Inggris sejak 10 tahun lalu. Dari 103 /community center/ di Singapore, hampir 95 persen membuka pelatihan silat.
Tidak cuma itu, sekarang ini 70 persen dari ratusan sekolah di Singapura juga mengajarkan pencak silat sebagai ektrakurikuler tetap lewat program “Silat Goes to School”. Silat juga dimasukkan sebagai kurikulum Sekolah Olahraga Singapura.
Sebagai sarana pembinaan dan pencarian bibit unggul dari seluruh aktivitas itu, setiap tahunnya, Persisi rutin menggelar kompetisi silat untuk berbagai usia dan kalangan. Ada program pembinaan dan kompetisi “Singa Silat” dan “Singa Cub” untuk bocah 3-11 tahun.
Sejak dini mereka telah dilatih Singapore Silat Centre of Excellence untuk kategori seni dan tanding. Mereka bahkan dikirim untuk berujicoba ke Malaysia dan Indonesia 2 kali setahun untuk memberikan mereka pengalaman.
Selain itu, masih ada kejuaraan nasional untuk berbagai kategori usia mulai dari Pre-Junior ((12-14 tahun), Junior (14-17 tahun) dan senior (17 tahun ke atas). Untuk level nasional masih ada juga kejuaraan Singapore Terbuka yang diikuti oleh kontingen negara lain.
Untuk level perguruan tinggi ada kejuaraan /Inter-varsity/ yang diikuti dari perguruan tnggi seperti National Univerisy of Singapore, Nanyang Technological University, Singapore Polytechnic, Republic Polytechnic dan lainnya. Masih ada juga turnamen /Inter-school/ yang diikuti oleh ratsuan sekolah di Singapura.
Dengan seluruh aktivitas ini, walaupun perlahan, diharapkan akan lebih banyak lagi warga Singapura non-melayu yang belajar pencak silat. Seorang pesilat wanita keturunan Cina yang ditemui /Tempo/ mengaku stigma terhadap silat tetap ada di kalangan warga non-melayu.
Strigma ini membuat pesilat non-melayu tidak mendapatkan dukungan yang besar dari keluarga seperti halnya apabila mereka memilih menekuni renang atau wushu. “Tetapi saya yakin dengan generasi baru, akan lebih banyak lagi anak Singapura non-melayu yang belajar pencak silat,” kata sang gadis yang enggan disebut namanya.
Salah satu cara memikat anak-anak muda adalah pemberian beasiswa pendidikan bagi yang berhasil mempersembahkan medali dalam kejuaraan internasional. Hal ini juga yang membuat Persisi meluncurkan program “Silat Goes Global” dengan memasyarakatkan silat ke negara-nagara lain.
Hal ini dilakukan agar silat mendapatkan dukungan yang luas agar bisa dipertandingkan di Asian Games atau bahkan Olimpiade. “Dengan demikian, anak-anak muda lebih termotivasi karena memiliki kesempatan untuk mengharumkan nama bangsa di ajang multi-even besar,” katanya.
Selain itu, dengan demikian, terbuka lebih besar kesempatan Singapura memperoleh medali emas di ajang Asian Games atau Olimpiade. “Kalau di renang dan lainnya mereka harus menghadapi negara-negara Eropa dan lainnya yang lebih kuat, di silat, lawan kita sesama Asia Tenggara. Relatif lebih seimbang dan punya kesempatan yang sama untuk menang,” ujar Sheik sambil tersenyum. | amal ihsan (singapura)
|